Rawan Parasit Cacing Pita, Sanitasi Sangat Penting Untuk Kampung Pegunungan Papua

Advertisement

Rawan Parasit Cacing Pita, Sanitasi Sangat Penting Untuk Kampung Pegunungan Papua

Admin
Wednesday, 29 August 2018

SENTANI, beritapapua.net - Tahun 80an, Peneliti UI telah mempublikasikan Kecacingan Pita Babi endemik di Pegunungan Tengah Papua (lebih dari 70% sampel kotoran penduduk pegunungan mengandung telur Cacing Pita).


Head CT scan picture by : Dr. Ignatius Letsoin, SpS. Jayapura Referral Central Hospital, Papua.
Oleh: dr. Indrajaya Manuaba

Domestication of Pig (memelihara babi) telah menjadi kultur kehidupan masyarakat Papua sekurang-kurangnya semenjak dimulainya gelombang migrasi "Lapita Culture" (origin: Formusa Island) mengarungi Oseania, 2500 tahun SM.
Taenia soleum adalah salah satu parasit cacing pita (tape worm) yang paling luas menginfeksi manusia berkat kemampuannya berevolusi mengenali kedekatan hubungan "manusia dan babi" dalam kultur memelihara babi.

Cacing pita Taenia soleum dalam perjalanan evolusinya berhasil beradaptasi dengan menjadikan usus halus manusia sebagai tempat hidupnya (host). Untuk mempertahankan jenisnya, maka ratusan ribu telur muda dikeluarkan disetiap BAB dari pengidap. Kotoran manusia tersebut kemudian ditelan babi. Tubuh babi kemudian menjadi tempat tinggal sementara, memberi kesempatan telur muda menjadi telur matang, sambil menunggu memperoleh kesempatan kembali kepada usus halus manusia melalui aktifitas manusia memakan daging babi. Demikianlah mahluk parasit ini menemukan siklus hidup alamiahnya sehingga dapat bertahan hidup sampai saat ini.

Wilayah masyarakat dengan higiene dan sanitasi yang masih sangat buruk dengan demikian menjadi media kuat bagi perputaran infeksi parasit. Kedekatan hubungan antara manusia dengan hewan peliharaan babi (tidak dikandangkan), keseharian tanpa jamban, kebersihan tangan dan makanan (higiene) yang sangat rendah, disertai tidak matangnya daging babi yang dikonsumsi ("bakar-batu" harus menghasilkan daging matang), kesemuanya menjadikan PEMBANGUNAN KAMPUNG sangat KRUSIAL bagi Papua, bersama-sama dengan sektor kesehatan dan pendidikan, demi masadepan Generasi Emas Papua.

Telur muda dari cacing pita Taenia soleum memiliki kemampuan menembus dinding lambung manusia, untuk selanjutnya beredar mengikuti sirkulasi darah ("telur yang tersesat", sebab tidak dapat menemukan usus halus untuk menjadi dewasa). Telur yang menempuh perjalanan seperti ini, akan tersangkut di berbagai jaringan dalam tubuh manusia; dari organ organ yang sangat vital (otak, jantung, paru, hati, ginjal), sampai organ organ pendukung seperti otot, kulit, bahkan mata, dan lain-lain. Telur-telur "tersesat" ini menjalani masa matangnya, untuk selanjutnya mati dan menjadi jaringan kapur (kalsifikasi) ditempatnya tersangkut. Oleh sebab itu, di wilayah endemik, masyarakat mengenalinya sebagai "biji-biji", bila menemukan benjolan sebesar kacang polong dibawah kulit (subcutaneous nodule). Sejumlah kasus istimewa didapati "nodule" telur matang bertumbuh pada permukaan luar bola mata (conjunctival cyst). Telur-telur "tersesat" yang tersangkut didalam jaringan otak, pada akhirnya akan membuat pengidap mengalami kejang berulang menahun (epilepsy). Istilah "mati-mati ayan" dikenal masyarakat pegunungan semenjak tahun 80an, yang menunjukkan adanya perluasan endemisitas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebut "Cysticercosis" sebagai infeksi parasit yang bisa dibasmi. Tantangan dalam eradikasinya adalah sulitnya pengendalian yang membutuhkan intervensi multisektoral yang bernama "pembangunan masyarakat kampung".

Kampung kampung di Bali Indonesia, dan kampung kampung pegunungan Andes di Peru dan Meksiko adalah contoh keberhasilan eradikasi Taeniasis di dunia dewasa ini.

Gambaran CT scan kepala dibawah ini menunjukkan adanya sebaran kista, telur matang cacing pita babi (neurocysticercosis), yang memenuhi jaringan otak penderita (disamping telur hidup, terdapat juga bekas telur mati yang berupa pengapuran). Keseluruhan telur-telur dan "bekas telur" tersebut pasti telah menimbulkan kejang berulang menahun pada penderita, menurunkan kemampuan kognitif dari otaknya, merusak fungsi otak secara keseluruhan, bahkan mengancam nyawa penderita. Kista juga tampak tersebar pada kulit kepala penderita.

Neurocysticercosis (NCC) tidak kalah buruk dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dibandingkan dengan "kelompok penyakit terabaikan" lainnya, seperti elephanthiasis dan Leprae.