Sempat Kerja di Karaoke 'plus-plus', 4 ABG Asal Bandung Dipulangkan dari Nabire

Advertisement

Sempat Kerja di Karaoke 'plus-plus', 4 ABG Asal Bandung Dipulangkan dari Nabire

Admin
Tuesday, 19 February 2019

BANDUNG, beritapapua.net - Satuan Reserse Kriminal Satreskrim Polrestabes Bandung berhasil memulangkan empat gadis anak baru gede (ABG) atau anak bawah umur yang dipekerjakan di tempat karaoke 'plus-plus' di Kabupaten Nabire, Papua.

Ilustrasi Pemandu Karaoke. IST/beritapapua
Kasus Tindak Pidana Penjualan Orang (TPPO) ini diketahui dari laporan seorang ibu, HR, yang mengaku jika anaknya, AD, telah menjadi korban perdagangan manusia. Awalnya, Sang anak tersebut dijanjikan kerja sebagai pelayan, namun nyatanya sebagai pemandu karaoke plus-plus di Karaoke Texas Nabire.

Kejadian bermula saat AD dan tiga gadis lain berkenalan dengan pelaku FR dan ARI pada 28 November 2018 lalu di Ujungberung, Kota Bandung. Keempat korban dijanjikan bekerja dengan gaji besar di Nabire.

"Korban ini dijanjikan diberi gaji Rp 30 juta per bulan," ujar Wakapolrestabes Bandung AKBP Gatot Sujono di Mapolrestabes Bandung, Kamis (14/2/2019), dilansir detik.com.

Setelah ada kesepakatan, FR dan ARI kemudian menyerahkan keempat korban ke Mami Bela dan dibawa ke Grand Cakung, Jakarta Timur. Di tempat ini keempat korban tinggal di Mess Malibu dan sempat bekerja di Club Dinasty dan Club Cafela selama satu minggu.

Korban ini dari BO mendapat fee Rp 700-1 juta. Jadi tidak seperti yang dijanjikan mendapat Rp 30 juta per bulan. AKBP Gatot Sujono

Tepat pada 2 Desember 2018, keempat korban kemudian diantar Mami Bela untuk bertemu Mami Puspa di Bandara Soekarno Hatta. Mereka kemudian terbang ke Nabire pada hari yang sama.

"Setelah di Bandara Nabire, para korban dijemput oleh pemilik Karaoke Texas Nabire dan selanjutnya mereka bekerja di sana," kata Gatot.

Rupanya selama di sana para korban dipekerjakan untuk melayani tamu mulai pukul 11.00 WIT hingga tempat karaoke tutup setiap harinya. Tidak hanya itu, mereka juga melayani plus-plus atau booking out (BO) terhadap tamu yang datang.

"Korban ini dari BO mendapat fee Rp 700-1 juta. Jadi tidak seperti yang dijanjikan mendapat Rp 30 juta per bulan. Para pelaku juga mendapat fee Rp 700-1 juta setiap satu anak yang dijual," ujar Gatot.

Selain meringkus keempat pelaku, polisi menetapkan pemilik Karaoke Texas Nabire Edi Macheli sebagai daftar pencarian orang (DPO). Kini tiga tersangka yaitu ARI, Mami Bela dan Mami Puspa masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolrestabes Bandung. Sedangkan tersangka FR, yang masih di bawah umur, telah diserahkan ke kejaksaan untuk menjalani sidang.

Para tersangka dijerat pasal berlapis yakni Pasal 88 jo 76 UU 35/2014 tentang Eksploitasi Seksual Anak dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara dan Pasal 2, 6, 11 dan 12 UU 21/2007 tentang TPPO yang ancaman maksimalnya 15 tahun penjara.